Notification

×

Iklan

Iklan

‎Bau Menyengat, Diduga Dapur SPPG Panembong Disorot Soal IPAL, Media Dipersulit untuk Liputan.

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:24 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-12T04:25:16Z

‎‎Garut — jejakinformasijabar.com, Pengelolaan limbah pada salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, menjadi sorotan.


‎Dapur SPPG Panembong disebut sebelumnya beberapa kali mendapat komplain dari warga terkait persoalan pembuangan limbah yang diduga menimbulkan bau menyengat dan mengganggu lingkungan sekitar.


‎Menurut keterangan sejumlah warga masyarakat yang enggan disebutkan namanya bahwa ada bau menyengat dari IPAL SPPG Panembong yang diduga belum steril.


‎" itu baunya sampai gapura juga masih tercium pak kalau angin sedang kencang, kami sebagai warga merasa terganggu" ungkapnya

‎warga juga menambahkan kalau IPAL tersebut sangat berdepetan dengan rumah warga dan mesjid


‎" bahkan waktu itu pernah mengalir ke sawah warga pak, apalagi kolam IPAL tersebut berdempetan dengan rumah warga dan mesjid" tambah warga

‎Persoalan tersebut kemudian ditelusuri tim media Jejak Informasi melalui kunjungan langsung ke lokasi dapur SPPG. Namun, proses peliputan sempat mengalami kendala. Tim awak media mengaku mendapat kesulitan ketika hendak memasuki area dapur, termasuk saat hendak memberikan identitas dan mengisi buku tamu.

‎Akses menuju lokasi bahkan sempat terhenti di gerbang. Setelah terjadi perdebatan mengenai kepentingan peliputan, tim media kemudian menghubungi Kapolsek Bayongbong. Setelah komunikasi tersebut dilakukan, awak media akhirnya dapat memasuki lokasi untuk melakukan peliputan.


‎Setibanya di dalam area dapur, tim media kemudian meninjau langsung bagian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Di lokasi tersebut terlihat sebuah kolam yang tampak terdapat material berupa minyak atau lemak yang disebut berkaitan dengan limbah aktivitas dapur SPPG.


‎Meski demikian, pengelola menyampaikan bahwa saat ini sistem pengolahan limbah telah menggunakan IPAL jenis biotank. Sistem tersebut, menurut keterangan Asisten Lapangan (Aslap) bernama Irfan, baru diterapkan sekitar satu bulan terakhir.


‎Sementara itu, aktivitas Dapur SPPG Panembong disebut telah berjalan hampir enam bulan. Artinya, sistem IPAL biotank tersebut baru diterapkan setelah dapur beroperasi selama beberapa bulan.


‎Menurut Irfan, persoalan IPAL memang sebelumnya sempat menjadi perhatian warga. Ia membenarkan bahwa sistem pengolahan limbah sebelumnya masih dalam proses dan kemudian dilakukan pembenahan dengan menerapkan sistem IPAL biotank.


‎" Memang betul sebelum nya ada persoalan IPAL dengan Warga dan Media namun sekarang sudah memakai IPAL Biotank" Ungkapnya


‎Irfan juga menambahkan terkait keberadaan limbah pada kolam yang berada di area tersebut, Irfan menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak seluruhnya berasal dari aktivitas dapur SPPG.


‎Menurutnya, material yang berada di kolam tersebut telah terkontaminasi oleh kotoran yang berasal dari septic tank warga sekitar karena saluran pembuangan sebelumnya masih berkaitan dengan sistem pembuangan warga.


‎" Kalau soal limbah tidak hanya dari dapur saja pak, ini kan ada kotiran dari septiteng warga yang menyatu" Tambahnya


‎Namun demikian, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena berkaitan dengan pengelolaan limbah dari aktivitas dapur SPPG yang beroperasi setiap hari dan menghasilkan limbah domestik, sisa makanan maupun minyak atau lemak.


‎Di sisi lain, tim media juga berupaya meminta keterangan langsung dari Ketua KSPP atau Ketua SPPG Panembong mengenai persoalan IPAL, keluhan warga serta sistem pengelolaan limbah yang diterapkan.

‎Namun, Ketua SPPG Panembong, Eno, menolak memberikan wawancara secara langsung. Yang bersangkutan menyampaikan alasan tidak terbiasa melakukan wawancara dengan wartawan dan menyebut Aslap sebagai pihak yang biasa memberikan keterangan kepada media.


‎" alasan saya tidak mau di wawancara karna saya tidak terbiasa, biasanya sama aslap kalau awak media mau liputan atau wawancara" ujar Eno


‎Sementara itu, terkait kendala akses saat tim media hendak melakukan peliputan, kondisi tersebut menjadi bagian lain yang turut mendapat perhatian. Sebab, kegiatan jurnalistik dilakukan untuk memperoleh informasi dan klarifikasi secara langsung mengenai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.


‎Persoalan IPAL juga penting mendapat perhatian karena pengelolaan limbah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional dapur yang memproduksi makanan dalam jumlah besar setiap harinya.


‎Temuan dan keterangan di lapangan tersebut selanjutnya perlu diklarifikasi kepada pihak-pihak terkait, termasuk pengelola SPPG, pemerintah desa, pemerintah kecamatan serta instansi yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan terhadap aspek kesehatan lingkungan dan pengelolaan limbah.


‎Jejak Informasi akan terus melakukan penelusuran dan meminta penjelasan dari pihak terkait guna memastikan apakah sistem IPAL yang saat ini digunakan telah memenuhi ketentuan teknis dan standar pengelolaan limbah yang berlaku.


‎Hingga berita ini disusun, Ketua SPPG Panembong belum memberikan keterangan langsung melalui wawancara mengenai seluruh persoalan tersebut.




‎( F. BOY / Kaperwil Provinsi Jawa Barat )

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×