GARUT – jejakinformasijabar.com
Pengelolaan anggaran ketahanan pangan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Depok Mandiri, Desa Depok, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, kini menjadi sorotan publik. BUMDes tersebut diduga mengelola anggaran ketahanan pangan desa dengan total nilai sekitar Rp215 juta, yang sebagian dialokasikan untuk program budidaya ikan dengan metode bioflok.
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media, alokasi anggaran untuk program bioflok diperkirakan mencapai sekitar Rp75 juta. Namun, saat dilakukan peninjauan langsung ke lokasi yang disebut sebagai tempat pelaksanaan program, kolam bioflok terlihat tidak beroperasi. Kondisi kolam tampak kosong dan tidak ditemukan adanya aktivitas budidaya ikan sebagaimana yang direncanakan.
Di lokasi tersebut, awak media hanya mendapati beberapa ekor anjing penjaga. dan beberapa kolam bioflok terlihat kosong tak terisi ikan
Sejumlah warga setempat mengaku belum mengetahui secara jelas program-program yang dijalankan oleh BUMDes Depok Mandiri. Menurut mereka, sejauh yang diketahui, BUMDes tersebut hanya menjalankan program bioflok. Itupun kini realisasinya di lapangan dipertanyakan.
Warga juga menyebutkan bahwa nilai anggaran program bioflok yang beredar di masyarakat berada di kisaran Rp75 juta. Namun hingga kini, manfaat langsung dari program tersebut belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat sekitar.
Dalam upaya menjaga prinsip keberimbangan pemberitaan, tim awak media jejakinformasijabar.com berulang kali mencoba mengonfirmasi Kepala Desa Depok dan Ketua BUMDes Depok Mandiri. Namun pada tahap awal, Kepala Desa Depok diduga memilih bungkam dan sulit dihubungi meski telah dilakukan beberapa kali upaya klarifikasi.
Kesulitan serupa juga dialami saat awak media berupaya mengonfirmasi Ketua BUMDes Depok Mandiri. Ketua BUMDes diketahui sulit diajak bertemu untuk wawancara langsung. Setiap kali diminta memberikan keterangan secara tatap muka, yang bersangkutan selalu beralasan memiliki kesibukan dan hanya bersedia memberikan keterangan melalui pesan singkat.
Dalam salah satu pesan singkat yang diterima awak media, Ketua BUMDes menyampaikan, “Mohon maaf saya masih terus ada kesibukan, untuk sekarang saya sedang melayat orang sakit.”
Ketua BUMDes juga menambahkan bahwa dari tiga kolam bioflok yang dibangun, ikan di dua kolam dilaporkan mati. Ia menduga kematian tersebut akibat diracun oleh pihak tertentu, sehingga saat ini hanya satu kolam yang diklaim masih berjalan.
Sikap Kepala Desa yang sempat bungkam serta Ketua BUMDes yang sulit ditemui untuk wawancara langsung menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait transparansi pengelolaan anggaran dan akuntabilitas pelaksanaan program BUMDes.
Setelah upaya konfirmasi ke pihak desa belum membuahkan hasil, awak media kemudian melakukan klarifikasi kepada Camat Cisompet dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Tidak berselang lama, Kepala Desa Depok akhirnya memberikan tanggapan singkat.
Dalam keterangannya, Kepala Desa Depok mengakui bahwa realisasi anggaran BUMDes Depok Mandiri hingga saat ini baru mencapai Rp75 juta. Ia juga membenarkan adanya kendala komunikasi dengan Ketua BUMDes karena yang bersangkutan berada di luar wilayah Kecamatan Cisompet.
Pernyataan tersebut justru menimbulkan kejanggalan baru. Pasalnya, dari total anggaran ketahanan pangan yang disebut mencapai sekitar Rp215 juta, baru Rp75 juta yang terealisasi. Artinya, masih terdapat sisa anggaran yang cukup besar dan belum dijelaskan secara terbuka kepada publik.
Hingga berita ini ditayangkan, pengurus BUMDes Depok Mandiri belum memberikan penjelasan resmi dan rinci terkait tidak beroperasinya program bioflok, penyebab kegagalan dua kolam, serta rencana penggunaan sisa anggaran ketahanan pangan desa.
Redaksi jejakinformasijabar.com menegaskan akan terus melakukan upaya konfirmasi lanjutan kepada seluruh pihak terkait, guna memastikan keterbukaan informasi publik, akurasi data, serta pemberitaan yang berimbang sesuai dengan kode etik jurnalistik.
( F.BOY / Kaperwil provinsi Jabar )
