Garut – jejakinformasijabar.com
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sauyunan Girijaya, Desa Giri Jaya, menunjukkan peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong perekonomian masyarakat desa. Melalui sejumlah unit usaha produktif, BUMDes ini mengelola program ketahanan pangan dengan anggaran ratusan juta rupiah pada tahun anggaran 2025.
BUMDes Sauyunan Girijaya berdiri dan beroperasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa, yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa serta menyesuaikan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang menegaskan BUMDes sebagai badan hukum.
Pada tahun 2025, BUMDes Sauyunan Girijaya mengelola anggaran Program Ketahanan Pangan sebesar Rp229.809.800. Anggaran tersebut dialokasikan untuk menjalankan tiga unit usaha utama, yakni peternakan ayam petelur, budidaya ikan nila sistem bioflok, serta lumbung padi sebagai cadangan pangan desa.
Ketua BUMDes Sauyunan Girijaya, Wildan Saepul Rais (30), menjelaskan bahwa pelaksanaan program ketahanan pangan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
“Masyarakat dilibatkan sejak awal melalui Musyawarah Desa, terutama dalam menentukan alokasi anggaran dan jenis kegiatan yang akan dijalankan,” ujarnya.
Tidak hanya sebagai penerima manfaat, masyarakat Desa Giri Jaya juga terlibat langsung dalam pengelolaan unit usaha. Sejumlah warga bahkan untuk bekerja di unit ayam petelur, budidaya ikan nila bioflok, maupun pengelolaan lumbung padi, sehingga program ini turut membuka lapangan pekerjaan di tingkat desa.
Dukungan terhadap Program Ketahanan Pangan BUMDes Sauyunan Girijaya datang dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, pengelola BUMDes, masyarakat desa, pendamping desa, hingga aparat keamanan dan pengawasan. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci keberhasilan program agar berjalan sesuai perencanaan.
Meski demikian, BUMDes Sauyunan Girijaya juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Tidak semua pengelola maupun masyarakat memiliki pengetahuan teknis yang memadai di bidang pertanian, peternakan, dan manajemen usaha pangan.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah desa dan BUMDes menjalin kerja sama dengan pendamping desa melalui pendampingan serta pelatihan teknis. Tantangan lainnya adalah partisipasi masyarakat yang belum merata.
Terkait respon masyarakat, Wildan menuturkan bahwa antusiasme warga cukup tinggi.
“Alhamdulillah, respon masyarakat sejauh ini sangat baik. Contohnya pada unit ayam petelur yang berada di Kampung Kancil, masyarakat ikut bergotong royong membantu hingga unit usaha tersebut bisa berjalan seperti sekarang,” ungkapnya.
Ke depan, Wildan berharap Program Ketahanan Pangan yang dikelola BUMDes Sauyunan Girijaya dapat berjalan secara berkelanjutan dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh masyarakat desa.
“Saya berharap program ini terus didukung oleh semua pihak, termasuk pemerintah desa. Mudah-mudahan ke depannya manfaat dari program ini bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Desa Giri Jaya, bahkan menjadi sumber pembangunan infrastruktur desa,” pungkasnya.
( F. BOY / Kaperwil Jabar )
