Garut – jejakinformasijabar.com
Yayasan Aulia Darussalam Pakenjeng menerapkan kurikulum berbasis cinta sebagai pendekatan pendidikan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak mulia.
Yayasan ini lahir dari kepedulian para pendirinya terhadap kebutuhan masyarakat akan lembaga pendidikan yang mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, serta pembentukan moral. Melalui konsep tersebut, yayasan berkomitmen mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjadi teladan di lingkungan masyarakat.
Kurikulum berbasis cinta menekankan nilai kasih sayang, penghargaan, dan kepedulian dalam setiap proses pembelajaran. Peserta didik dipandang sebagai individu yang memiliki keunikan masing-masing sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan humanis.
Ketua Yayasan Aulia Darussalam S. Anwar Fermana S. Pd.I.M.SI. mengatakan, penerapan kurikulum tersebut merupakan bagian dari upaya membangun pendidikan yang lebih menyentuh aspek karakter peserta didik.
“Kami meyakini bahwa pendidikan tidak cukup hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai kasih sayang, akhlak, dan kepedulian sosial. Melalui kurikulum berbasis cinta ini, kami berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang membuat anak merasa dihargai, dibimbing, dan didampingi dengan penuh perhatian,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat serta bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan yayasan dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan lingkungan sekitarnya,” tambahnya.
Penerapan kurikulum berbasis cinta dilakukan secara bertahap di seluruh jenjang pendidikan di bawah naungan yayasan, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Pendekatan ini mulai dikembangkan ketika yayasan menilai metode pembelajaran konvensional belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan perkembangan karakter peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, yayasan menanamkan berbagai nilai utama, di antaranya kasih sayang dan empati terhadap sesama, kejujuran dan integritas, tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun lingkungan, kedisiplinan yang tumbuh dari kesadaran, serta semangat belajar sepanjang hayat.
Implementasi kurikulum tersebut diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran yang lebih personal. Guru didorong memahami latar belakang dan kondisi setiap peserta didik, sekaligus menciptakan suasana kelas yang hangat dan penuh penghargaan.
Selain itu, kegiatan pembelajaran diarahkan pada kerja sama, diskusi, refleksi nilai kehidupan, serta pembiasaan doa dan akhlak baik dalam aktivitas sehari-hari.
Pendekatan pembelajaran juga disesuaikan dengan karakteristik tiap jenjang pendidikan. Pada tingkat MI, pembelajaran difokuskan pada penanaman dasar akhlak, kedisiplinan, serta membangun rasa percaya diri anak. Di jenjang MTs, pembinaan diarahkan pada pembentukan identitas remaja, pengendalian diri, serta tanggung jawab sosial.
Sementara itu, pada tingkat MA, peserta didik dipersiapkan untuk memiliki kedewasaan berpikir, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi tantangan kehidupan. Adapun di PKBM, proses pembelajaran dilakukan secara fleksibel dengan mempertimbangkan latar belakang serta kondisi masyarakat yang beragam.
Dalam penerapannya, peran guru dan tenaga pendidik menjadi faktor penting. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dan pembimbing yang menanamkan nilai kasih sayang melalui sikap sabar, perhatian, serta komunikasi yang hangat. Tenaga pendidik lainnya turut mendukung dengan menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian.
Sejak diterapkan, pendekatan ini dinilai membawa dampak positif. Peserta didik terlihat lebih bersemangat dalam belajar karena merasa dihargai. Hubungan antar siswa menjadi lebih harmonis dan minim konflik. Lingkungan sekolah pun menjadi lebih kondusif serta penuh keakraban. Selain itu, peserta didik menunjukkan peningkatan dalam sikap sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Respons positif juga datang dari orang tua dan masyarakat. Banyak orang tua menilai pendidikan di yayasan tersebut mampu membentuk anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Masyarakat sekitar pun turut mendukung karena lulusan yayasan dinilai membawa pengaruh positif di lingkungan sosial.
Ke depan, Yayasan Aulia Darussalam Pakenjeng berharap kurikulum berbasis cinta dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya, sekaligus melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan membawa manfaat bagi bangsa serta agama.
( F. BOY/ Kaperwil provinsi Jawa Barat )
