Garut – jejakinformasijabar.com
SMPN 2 Samarang yang berlokasi di Jalan Raya Kamojang, Kampung Ciparay, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, menjadi sorotan publik. Sekolah dengan jumlah siswa sekitar 1.127 orang tersebut diduga kurang transparan dalam pengelolaan anggaran, khususnya terkait pemeliharaan sarana dan prasarana.
Sorotan ini mencuat setelah tim awak media melakukan pemantauan langsung ke lokasi. Dari hasil pantauan, kondisi lingkungan sekolah tampak kurang terawat dan terkesan kumuh, sehingga menimbulkan pertanyaan di tengah besarnya anggaran yang diterima setiap tahunnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, SMPN 2 Samarang menerima Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan nilai yang mencapai ratusan juta rupiah per tahun. Dalam ketentuan, sebagian anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik. Sejumlah fasilitas sekolah terlihat mengalami kerusakan, mulai dari atap bangunan yang bolong, pintu ruangan yang rusak, hingga perabot atau mebel yang tampak rapuh dan tidak layak digunakan.
Selain itu, fasilitas toilet atau WC sekolah juga menjadi perhatian serius. Di beberapa bagian ditemukan coretan-coretan tidak pantas yang mencoreng lingkungan pendidikan, bahkan mengandung unsur yang tidak layak dilihat oleh para pelajar.
Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan, mengingat sekolah seharusnya menjadi tempat yang layak, nyaman, dan mendukung proses belajar mengajar serta pembentukan karakter siswa.
Tim awak media kemudian berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada pihak sekolah. Namun, saat mendatangi lokasi, tidak ada satu pun pihak yang dapat memberikan keterangan. Kepala sekolah, bendahara, humas hingga operator sekolah disebut tidak berada di tempat.
Upaya konfirmasi lanjutan dilakukan melalui pesan WhatsApp kepada Kepala Sekolah, Evy Sutisna. Dalam balasan singkatnya, yang bersangkutan justru mempertanyakan maksud wawancara yang diajukan awak media dengan pernyataan.
“Menanyakan ini untuk apa pak,” ujarnya singkat.
Setelah itu, hingga berita ini diturunkan, tidak ada penjelasan lebih lanjut yang diberikan. Sikap tersebut dinilai sebagai bentuk ketidakterbukaan dan semakin menimbulkan tanda tanya di tengah sorotan terhadap kondisi sekolah.
Masyarakat pun berharap adanya transparansi dalam pengelolaan anggaran pendidikan, khususnya Dana BOS, agar penggunaannya benar-benar tepat sasaran dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh siswa.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak SMPN 2 Samarang belum memberikan klarifikasi resmi terkait kondisi sarana dan prasarana maupun penggunaan anggaran.
Tim awak media jejakinformasijabar.com masih membuka ruang hak jawab dan akan terus berupaya melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait guna menghadirkan informasi yang berimbang kepada publik.
( F. BOY / Kaperwil provinsi Jawa Barat )
