Notification

×

Iklan

Iklan

‎Terima Dana Bos Ratusan Juta Namun Sekolah Disinyalir Sepi, SMA Islam As Sakinah Pakenjeng Diduga Mark Up Siswa

Kamis, 12 Maret 2026 | 20:54 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-12T13:55:08Z
‎GARUT – jejakinformasijabar.com
‎SMA Islam As Sakinah yang berada di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, menjadi sorotan setelah muncul dugaan ketidaksesuaian antara jumlah siswa yang tercatat dalam data resmi dengan kondisi di lapangan.
‎Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan As Sakinah Pakenjeng tersebut tercatat mengelola dua lembaga pendidikan, yakni SMA Islam As Sakinah Pakenjeng dan MTs As Sakinah Cirinu.
‎Berdasarkan data Dapodik tahun 2025, SMA Islam As Sakinah Pakenjeng tercatat memiliki 144 siswa. Dengan jumlah tersebut, sekolah menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp216.000.000.
‎Namun, saat awak media melakukan peninjauan langsung ke lokasi sekolah pada Selasa (4/3/2026), aktivitas belajar mengajar di lingkungan sekolah tampak tidak terlalu ramai. Jumlah siswa yang terlihat di area sekolah hanya sebagian kecil dari angka yang tercatat dalam data resmi.

‎Seorang guru di sekolah tersebut yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyampaikan bahwa fasilitas ruang belajar yang ada berjumlah tiga ruang kelas. Ia juga menyebutkan bahwa jumlah siswa yang menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat sebanyak 66 orang.
‎“Di sini ada tiga ruang kelas. Untuk yang menerima MBG sekitar 66 siswa. Selebihnya silakan konfirmasi langsung ke kepala sekolah, saya khawatir salah menyampaikan,” ujarnya.
‎Sementara itu, Kepala SMA Islam As Sakinah Pakenjeng, Ahmad Husen, tidak berhasil ditemui secara langsung saat kunjungan dilakukan. Namun melalui pesan WhatsApp, ia menjelaskan bahwa jumlah siswa yang tercatat sebanyak 144 orang sudah sesuai dengan data di Dapodik.
‎Menurutnya, kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas reguler dan sekolah terbuka.
‎“Jumlah siswa memang 144 sesuai Dapodik. Hanya saja pembelajaran dibagi dua, ada reguler dan sekolah terbuka. Jadi ketika pembelajaran berlangsung di sekolah terlihat sedikit karena terbagi dua kelompok,” kata Ahmad Husen.

‎Ia juga menjelaskan bahwa program sekolah terbuka masih berada di bawah kepemimpinannya dan menggunakan satu basis data Dapodik yang sama. Untuk metode pembelajaran, kata dia, tidak seluruhnya dilakukan secara tatap muka di sekolah.
‎“Kegiatan pembelajaran sekolah terbuka bisa dilakukan secara daring atau melalui komunikasi langsung yang terbatas,” ujarnya.
‎Hingga berita ini dipublikasikan, pihak ketua Yayasan As Sakinah maupun dinas pendidikan terkait belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan ketidaksesuaian data tersebut.
‎Temuan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait kesesuaian antara jumlah peserta didik yang tercatat dalam sistem data pendidikan dengan kondisi riil di lapangan, khususnya berkaitan dengan penggunaan dana BOS yang bersumber dari anggaran negara.
‎( F. BOY / Kaperwil provinsi Jawa Barat )
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×