Garut – jejakinformasijabar.com
Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Cinta Damai, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung Program Ketahanan Pangan Desa. Melalui unit usaha budidaya ayam petelur, Bumdes Cinta Damai tidak hanya menjamin ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Ketua BUMDes Cinta Damai, Edi Hadiana (48), menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya telah memiliki status badan hukum resmi. Bumdes Cinta Damai tercatat sebagai badan usaha legal dengan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Nomor 0709230088187, sehingga memiliki legitimasi penuh untuk menjalankan berbagai unit usaha secara profesional dan berkelanjutan.
“Status badan hukum ini menjadi landasan kuat bagi kami untuk mengelola usaha desa secara transparan dan akuntabel,” ujar Edi Hadiana.
Pada Tahun Anggaran 2025, Pemerintah Desa Cinta Damai memberikan amanah pengelolaan anggaran Rp 266.675.000 kepada Bumdes untuk Program Ketahanan Pangan. Dana tersebut difokuskan pada pengembangan unit usaha budidaya ayam petelur, yang dipilih karena memiliki permintaan pasar tinggi serta perputaran ekonomi yang relatif cepat.
Menurut Edi, program tersebut dilaksanakan secara mandiri oleh Bumdes dengan melibatkan masyarakat desa sebagai tenaga kerja. Mulai dari pembangunan kandang, perawatan ayam, pengelolaan limbah, hingga distribusi hasil produksi telur, seluruh tahapan kegiatan mengedepankan partisipasi warga setempat.
“Program ini kami rancang agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dari sisi akses pangan maupun ekonomi,” jelasnya.
Manfaat program ketahanan pangan ini mulai dirasakan warga Desa Cinta Damai. Selain memperoleh akses telur segar dengan harga lebih terjangkau dibanding harga pasar, masyarakat juga mendapatkan kesempatan kerja.
Hasil usaha tersebut diharapkan dapat menjadi sumber PADes yang akan dikembalikan untuk kepentingan pembangunan desa.
Dukungan terhadap program ini datang dari berbagai pihak, termasuk Kepala Desa Cinta Damai, H. Undang (60), yang bertindak sebagai penasehat Bumdes. Selain itu, sinergi dengan perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta pendampingan tenaga ahli peternakan turut memperkuat keberlangsungan program.
Kepala Desa Cinta Damai, H. Undang, menilai pelaksanaan Program Ketahanan Pangan yang dikelola Bumdes berjalan kondusif dan sesuai perencanaan.
“Manajemen operasional BUMDes menunjukkan stabilitas yang baik. Sinergi antara pemerintah desa dan pengelola berjalan efektif, sehingga program ini berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak program tersebut cukup signifikan, terutama dalam pemberdayaan ekonomi lokal dan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Menurutnya, keberadaan budidaya ayam petelur membantu menjaga stabilitas pasokan pangan bergizi dengan harga terjangkau bagi warga desa.
Meski demikian, Bumdes Cinta Damai juga menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya risiko penyakit unggas dan fluktuasi harga pakan. Untuk mengatasi hal tersebut, pengelola menerapkan sistem sanitasi kandang yang ketat, pemberian nutrisi seimbang, serta vaksinasi rutin guna menjaga produktivitas ayam.
Ke depan, baik pengelola Bumdes maupun pemerintah desa memiliki harapan besar terhadap keberlanjutan dan ekspansi program. Target jangka panjangnya adalah memperluas distribusi telur hingga ke wilayah Kecamatan Sukaresmi, sehingga Bumdes Cinta Damai dapat menjadi pemasok utama sekaligus percontohan kemandirian pangan desa di tingkat kecamatan.
“Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah desa, kami optimistis Bumdes Cinta Damai dapat menjadi pilar utama kesejahteraan ekonomi desa,” pungkas Edi Hadiana.
( F. BOY / Kaperwil provinsi Jabar )
