Garut – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tangguh Bersama Cintaasih di Desa Cinta Asih, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Dengan memanfaatkan alokasi dana sebesar Rp186.727.500 atau 20% dari Dana Desa tahun anggaran 2025, BUMDes ini berhasil menjalankan dua kegiatan utama: budidaya kentang dan pembibitan ikan dengan sistem bioflok. Rabu (29/10/2025)
Ketua BUMDes Cinta Asih, Ayi Sukirman (49), menjelaskan bahwa seluruh kegiatan dijalankan secara swakelola oleh pengurus BUMDes, dengan melibatkan warga setempat sebagai tenaga kerja.
“Kami memberdayakan pekerja lokal, terutama buruh tani, agar kegiatan budidaya ini bisa sekaligus menyerap tenaga kerja dari warga sendiri,” ujarnya.
Menurut Ayi, manfaat program ini mulai terasa secara nyata. Selain membuka lapangan kerja, kebutuhan masyarakat terhadap hasil pangan juga mulai terpenuhi. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, lembaga desa, hingga tokoh masyarakat, menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini.
Meski demikian, Ayi tak menampik adanya sejumlah tantangan di lapangan, terutama faktor cuaca yang tidak menentu dan keterbatasan air untuk budidaya kentang.
“Kami mengatasinya dengan melakukan penyemprotan pestisida secara rutin agar tanaman tetap terjaga dari hama,” tambahnya.
Ia juga berharap agar pemerintah pusat terus memberikan pendampingan dan edukasi berkelanjutan kepada BUMDes dalam menjalankan program ketahanan pangan.
“Kami butuh pembinaan yang berkesinambungan agar program ini tidak hanya berjalan sesaat, tapi berlanjut dan berdampak luas bagi masyarakat,” tutur Ayi.
Kepala Desa Cinta Asih, Asep Rahmat Hidayat (43), menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kerja keras BUMDes yang telah berperan aktif menjalankan program ketahanan pangan sesuai arahan pemerintah.
“Program ketahanan pangan merupakan salah satu nawacita pemerintah yang tentu harus didukung penuh oleh pemerintah desa,” ujarnya.
Asep menilai bahwa keberadaan program ini telah membawa manfaat langsung, terutama dalam penyerapan tenaga kerja lokal di sektor pertanian kentang.
“Warga merasakan langsung dampaknya, terutama yang terlibat dalam kegiatan budidaya kentang,” katanya.
Lebih lanjut, Asep berharap agar sinergi antara pemerintah desa dan BUMDes dapat terus berlanjut.
“Kami berharap ada pendampingan dari berbagai sektor agar program ini terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat. Sekarang baru tahap awal, ke depan harus terus maju dan berkelanjutan,” ungkapnya optimistis.
Salah satu warga Desa Cinta Asih, Dani (48), mengaku merasakan dampak positif dari adanya program ketahanan pangan yang dijalankan BUMDes.
“Alhamdulillah, sekarang banyak warga yang bisa ikut bekerja di lahan kentang. Selain menambah penghasilan, kami juga jadi lebih semangat karena ada kegiatan produktif di desa sendiri,” ujar Dani.
Ia menilai bahwa keberadaan BUMDes menjadi wadah penting bagi masyarakat untuk berkembang dan berdaya secara ekonomi.
“BUMDes ini membantu kami, warga kecil, untuk punya kesempatan ikut maju. Semoga programnya terus berjalan dan semakin besar manfaatnya,” tambahnya.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah desa, pengurus BUMDes, dan masyarakat, BUMDes Tangguh Bersama Cintaasih menjadi contoh nyata bagaimana dana desa bisa dikelola secara produktif untuk mendorong kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan di tingkat lokal.
(F.BOY / Kaperwil Jabar)
