GARUT - jejakinformasijabar.com
Di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan nonformal, PKBM Cahaya Islam terus memperkuat perannya sebagai penyelenggara pendidikan kesetaraan yang berorientasi pada mutu dan pembelajaran bermakna. Lembaga ini beralamat di Kampung Cigedug Tonggoh RT 03 RW 09, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Didirikan pada 2015 di bawah naungan Yayasan Cahaya Islam Cigedug, PKBM ini lahir dari hasil musyawarah antara yayasan dan masyarakat setempat, dengan dukungan pemerintah desa serta Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Pendirian lembaga tersebut dilatarbelakangi kebutuhan peningkatan akses pendidikan bagi warga yang belum menyelesaikan pendidikan formal.
Secara legalitas, PKBM Cahaya Islam telah memiliki izin operasional dengan Nomor Registrasi 421.1/3432-Disdik Tahun 2015.
PKBM Cahaya Islam menyelenggarakan tiga program pendidikan kesetaraan, yakni Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Hingga saat ini, tercatat sebanyak 232 peserta didik aktif dengan dukungan 11 tenaga pendidik atau tutor.
Kepala Pengelola PKBM Cahaya Islam, Abdurohman, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya tidak hanya berfokus pada kelulusan administratif, tetapi juga pada kualitas pemahaman dan kompetensi warga belajar.
“PKBM hadir sebagai harapan kedua bagi masyarakat yang tidak mendapatkan kesempatan pendidikan formal secara utuh. Tantangan kami bukan hanya pada administrasi, tetapi membangun kembali motivasi dan kepercayaan diri warga belajar,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, PKBM Cahaya Islam mengusung pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Model ini menekankan pemahaman konseptual, kemampuan berpikir kritis, serta pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan materi.
Visi lembaga ini adalah menjadi pusat pendidikan nonformal berbasis pembelajaran mendalam yang unggul, berkarakter Islami, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Implementasinya dilakukan melalui pendekatan kontekstual, reflektif, kolaboratif, serta berbasis proyek.
Selain penguatan literasi dan numerasi, PKBM juga mengintegrasikan kecakapan abad ke-21 seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi dalam proses pembelajaran.
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, PKBM Cahaya Islam memegang peran penting dalam membantu warga yang putus sekolah akibat faktor ekonomi, sosial, maupun pekerjaan.
Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, warga belajar tetap dapat mengakses pendidikan dan memperoleh ijazah kesetaraan yang diakui negara. Lebih dari itu, PKBM berupaya menjadi ruang belajar yang inklusif dan suportif guna memulihkan rasa percaya diri peserta didik.
PKBM juga mengembangkan program kecakapan hidup (life skills), literasi digital, serta penguatan keterampilan kerja agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam lingkup kecamatan, PKBM Cahaya Islam pernah meraih prestasi Juara Hadroh. Meski belum mencatatkan prestasi di tingkat kabupaten, pengelola menyatakan fokus utama lembaga adalah peningkatan mutu layanan pendidikan dan dampak nyata bagi masyarakat.
Ke depan, PKBM Cahaya Islam menargetkan penguatan tata kelola kelembagaan yang profesional, transparan, dan akuntabel. Selain itu, lembaga berkomitmen meningkatkan kompetensi tutor melalui pelatihan berkelanjutan serta supervisi akademik secara berkala.
“Kami berharap PKBM tidak dipandang sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai pilihan strategis dalam pendidikan kesetaraan. Lulusan kami harus mandiri, adaptif, dan produktif,” kata Abdurohman.
Dengan pendekatan pembelajaran yang lebih reflektif dan berorientasi pada kompetensi, PKBM Cahaya Islam berupaya mempertegas eksistensinya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang berkontribusi dalam pemerataan akses dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
( F. BOY / Kaperwil Provinsi Jawa Barat )
